Haikal Hassan Mendunia, Raih Gelar Profesor Kehormatan di Busan
Oleh Admin, 20 Jun 2026
Busan, Korea Selatan — Nama Ahmad Haikal Hassan kembali menjadi sorotan di kancah internasional. Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) tersebut resmi menerima gelar Profesor Kehormatan (Professor Emeritus) dari Silla University, Busan, Korea Selatan, pada pertengahan Juni 2026. Penghargaan bergengsi ini menjadi bukti nyata bahwa kontribusi Indonesia dalam pengembangan ekosistem halal semakin mendapat perhatian dan pengakuan dunia.
Penganugerahan gelar tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Haikal Hasan dalam memperkuat sistem jaminan produk halal, memperluas kerja sama internasional, serta mendorong perkembangan pendidikan dan riset halal di tingkat global. Pengakuan ini sekaligus menunjukkan bahwa isu halal kini telah berkembang menjadi bagian penting dari percakapan internasional mengenai kualitas, keamanan produk, dan kepercayaan konsumen.
Bagi Indonesia, penghormatan yang diterima Haikal Hassan bukan sekadar pencapaian pribadi. Lebih dari itu, penghargaan ini menjadi simbol meningkatnya posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan industri halal dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk halal terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat global akan pentingnya standar mutu, keamanan, kebersihan, dan transparansi dalam proses produksi.
Ahmad Haikal Hassan yang akrab disapa Babe Haikal menerima gelar tersebut dalam rangkaian agenda akademik dan kerja sama internasional yang melibatkan Silla University serta BIC Halal Korea. Dalam berbagai forum yang digelar, pembahasan mengenai halal tidak hanya berfokus pada regulasi sertifikasi, tetapi juga pada pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pengakuan Internasional untuk Peran Indonesia
Pemberian gelar Profesor Kehormatan oleh Silla University mencerminkan pengakuan akademik internasional terhadap peran Indonesia dalam pengembangan industri halal global. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi rujukan dalam bidang sertifikasi, tata kelola, hingga pengembangan standar halal yang kredibel.
BPJPH sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan jaminan produk halal memegang peranan penting dalam proses tersebut. Di bawah kepemimpinan Haikal Hasan, berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat ekosistem halal nasional melalui peningkatan kolaborasi lintas negara, pengembangan kapasitas SDM, serta perluasan jejaring internasional.
Silla University menilai kontribusi Haikal Hassan sangat signifikan dalam memperkenalkan konsep halal yang lebih luas dan modern. Halal tidak lagi dipahami hanya sebatas makanan dan minuman, tetapi juga mencakup kosmetik, obat-obatan, jasa, logistik, hingga rantai pasok global yang terintegrasi.
Di era modern saat ini, label halal semakin identik dengan jaminan kualitas. Konsumen global menginginkan produk yang memiliki bahan baku jelas, proses produksi yang transparan, serta memenuhi standar kebersihan dan keamanan yang ketat. Karena itu, halal kini berkembang menjadi standar kepercayaan yang melampaui batas agama dan budaya.
Halal Sebagai Nilai Universal
Dalam pidatonya saat menerima penghargaan tersebut, Haikal Hassan kembali menyampaikan gagasan yang selama ini menjadi visinya, yakni “Halal is for all” atau halal untuk semua.
Pesan tersebut menegaskan bahwa halal bukan hanya kebutuhan umat Muslim, tetapi juga sebuah standar universal yang dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Prinsip halal mengedepankan kebersihan, keamanan, kualitas, serta kepastian proses yang pada akhirnya menciptakan kepercayaan konsumen.
Di berbagai negara, produk halal semakin diminati oleh kalangan non-Muslim karena dianggap memiliki proses produksi yang lebih terjamin. Fenomena ini menunjukkan bahwa halal telah berkembang menjadi bahasa universal yang dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran penting dalam perkembangan tersebut. Pengalaman panjang dalam mengelola sistem halal menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk menjadi pusat referensi dan pengembangan standar halal internasional.
Dari Sertifikasi Menuju Ekosistem Halal Modern
Selama ini banyak orang memandang halal hanya dari sisi sertifikasi produk. Padahal, ekosistem halal mencakup aspek yang jauh lebih luas dan kompleks.
Ekosistem halal melibatkan dunia pendidikan, penelitian, laboratorium, audit, logistik, pemasaran, pengawasan, teknologi digital, hingga pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu, pengembangannya membutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, lembaga sertifikasi, dan mitra internasional.
Penghargaan yang diterima Haikal Hassan menunjukkan bahwa isu halal kini telah memasuki ranah akademik global. Perguruan tinggi mulai melihat halal sebagai bidang kajian strategis yang memiliki dampak besar terhadap ekonomi, perdagangan internasional, dan perkembangan industri masa depan.
Keterlibatan kampus juga membuka peluang lahirnya tenaga ahli halal yang profesional, mulai dari auditor, peneliti, analis laboratorium, hingga konsultan industri yang siap menjawab kebutuhan pasar global.
Kolaborasi Silla University dan BIC Halal Korea
Selain penganugerahan gelar kehormatan, agenda penting lainnya adalah penguatan kerja sama antara Silla University dan BIC Halal Korea. Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan pendidikan, penelitian bersama, serta sistem sertifikasi halal berstandar internasional.
Kerja sama ini dinilai strategis karena Korea Selatan merupakan salah satu negara yang aktif mengembangkan industri halal untuk menjangkau pasar global. Sementara bagi Indonesia, kolaborasi tersebut menjadi peluang untuk memperluas diplomasi halal sekaligus memperkuat pengaruhnya dalam pengembangan standar halal dunia.
Melalui sinergi akademik dan kelembagaan, kedua pihak berpeluang mengembangkan program pelatihan, pertukaran pengetahuan, penelitian terapan, hingga inovasi teknologi yang mendukung perkembangan industri halal modern.
Indonesia di Tengah Persaingan Industri Halal Global
Pasar halal dunia terus berkembang dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Banyak negara, termasuk yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, mulai serius menggarap sektor ini sebagai peluang ekonomi masa depan.
Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Thailand, Australia, Brasil, hingga sejumlah negara Eropa semakin aktif menghadirkan produk dan layanan ramah halal. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri halal telah menjadi bagian dari persaingan ekonomi global.
Dalam situasi tersebut, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar konsumen. Indonesia harus mampu tampil sebagai pemain utama, pusat pengetahuan, serta penyusun standar yang diperhitungkan dunia. Pengakuan yang diberikan kepada Haikal Hassan menjadi salah satu indikasi bahwa langkah menuju posisi tersebut semakin terbuka.
Diplomasi Halal sebagai Kekuatan Indonesia
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hassan juga mencerminkan keberhasilan diplomasi halal Indonesia. Dalam hubungan internasional modern, pengaruh suatu negara tidak hanya dibangun melalui ekonomi dan politik, tetapi juga melalui nilai, standar, serta sistem yang dipercaya masyarakat global.
Halal menjadi salah satu instrumen soft power yang dimiliki Indonesia. Melalui penguatan ekosistem halal, Indonesia dapat memperluas kerja sama internasional, meningkatkan peluang ekspor, serta memperkenalkan standar produk yang berbasis pada kepercayaan dan kualitas.
Ke depan, diplomasi halal berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar. Tidak hanya bagi perusahaan besar, tetapi juga bagi UMKM yang ingin menembus pasar internasional dengan standar yang lebih kompetitif.
Momentum Baru bagi Industri Halal Nasional
Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University kepada Ahmad Haikal Hassan menjadi momentum penting bagi perkembangan industri halal Indonesia. Penghargaan ini menunjukkan bahwa kontribusi Indonesia dalam sektor halal mulai mendapat perhatian serius dari dunia internasional.
Lebih dari sekadar penghormatan akademik, pencapaian ini menjadi simbol bahwa halal telah berkembang menjadi isu strategis yang berkaitan dengan ekonomi, pendidikan, riset, diplomasi, dan pembangunan sumber daya manusia.
Ketika Haikal Hassan menyampaikan pesan “Halal is for all”, ia tidak hanya berbicara tentang sertifikasi produk, tetapi juga tentang masa depan industri halal yang lebih inklusif, modern, dan mendunia.
Dari Busan untuk dunia, penghargaan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai salah satu pusat utama ekosistem halal global. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pengakuan tersebut diikuti dengan langkah nyata melalui penguatan sistem halal nasional, perluasan kolaborasi internasional, serta peningkatan daya saing industri halal Indonesia di pasar dunia.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya